4 Alternative Ways To Gain Lifetime Customers

You will always have more people that turn down your offer than actually buy. They might not have bought because of your price, payment options, or any other possible reason. You will just end up loosing all these potential lifetime customers. However, there are many ways you can minimize the loss of these prospects.

One way is to accept barter offers for your product. Maybe the person can't afford to buy your product. They may have something you could use in your business or personal life. If the barter deal isn't fair enough, either of you could add in some cash. You may not make money but, they might buy other products you offer.

Another way is to include a negotiation offer at the end of your ad copy. Tell your reader if there is
something they don't like about your offer, they could contact you and negotiate a different buying
offer. They may not like your price, guarantee, shipping methods, payment options, etc. You can
gain a potential lifetime customer by being flexible with your offer and negotiating instead of loosing them.

A simple way to attract lifetime customers would be to give people a freebie. The freebie should be related to the other products or services you sell. You may not be getting paid for the freebie, but you will get a lot more people using one of your products because it is free. If they are impressed by your free product there is a high chance they'll buy your other products in the future.

The last way is to sell your product at the price it costs you to produce or buy it. You will usually
sell more products at a lower price than your competition which equals more potential lifetime
customers. You will break even in cost but you'll make your profit from the upsell and backend
products your sell your lifetime customers.

Adsense Indonesia
Pemimpin Dalam Perspektif Islam

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan Rasul-nya, dan pemimpin (ulil amri) diantara kalian (yang juga beriman). Bila kalian berbeda pendapat tentang sesuatu (perkara, masalah), maka kembalikan (solusinya) kepada Allah (Al-Quran) dan Rosul (Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih baik dan lebih bermakna.”(an-Nisa:59).

Definisi Pemimpin

Ayat Al-Quran di atas (4:59), menganalogkan pemimpin dengan sebutan “ulil amr”,pemegang kekuasaan. Pemimpin sering juga diungkapkan dengan kata amir, yang bermakna pemimpin untuk semua tingkatan. Menilik kata-kata yang diungkapkan oleh Quran, jelas benar bahwa yang disebut pemimpin ialah orang-orang yang memegang kekuasaan untuk mensejahterakan dan melindungi rakyat. Pemimpin itu harus beriman, karena menyerukan orang-orang yang beriman untuk taat kepada Allah swt,Rasul dan pemimpin di antara mereka yang beriman. Dalam konteks ini, orang-orang beriman tidak harus, bahkan dilarang taat kepada pemegang kekuasaan(pemimpin)yang tidak beriman.”Tidak dibenarkan taat kepada mahluk dalam maksiat kepada al-Kholiq/Allah”(H.R. Ahmad).
Rasulullah s.a.w. mengidentikan pemimpin sebagai penggembala, dan setiap orang itu pemimpin. Dalam kaitan tugas seorang penggembala tentu tidak akan membiarkan ternaknya diterkam oleh binatang buas. Atau juga seorang penggembala tidak membiarkan hewan gembalaannya kelaparan atau dicuri orang. Alangkah besarnya beban dan tanggung jawab seorang pemimpin dalam kajian Islam.
Dalam managemen pemimpin sering didefinisikan sebagai”seseorang yang mampu mengendalikan (memotivasi,menggerakkan orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Karena itu seorang pemimpin dalam managemen ialah membuat perencanaan, mengorganisasikan personilnya secara tetap, memberikan motivasi dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan tugas bawahan atau anggota organisasi. Fungsi ini adalah fungsi yang dikemukakan oleh G.R.Terry. Dalam konsep kemampuan mengendalikan dan mempengaruhi orang lain guna mencapai tujuan organisasi, seorang pemimpin harus melakukan proses komunikasi. Selain itu, seorang pemimpin dalam tatacara kepemimpinan Islam tentu tidak boleh memanfaatkan kemampuan mengendalikan orang lain, untuk mencapai tujuan organisasi secara gratis.
Fungsi Pemimpin Dalam Islam
Jauh lebih lama sebelum dimunculkan teori-teori managemen, oleh F.W. Taylor, John F, Mee, Elton Mayo, George R. Terry, dan lain-lain, Islam telah mengemukakan prinsip dan fungsi managemen yang menakjubkan. Prinsip dan fungsi ini telah dipraktekkan rasulullah s.a.w. dan juga para Sahabat beliau dalam memimpin dan membangun masayarakat islami yang penuh keadilan. Di antara berbagai fungsi yang disampaikan oleh Allah s.w.t dalam Quran, yakni:
Pertama, bermusyawarah, dalam arti membicarakan suatu program atau perencanaan dengan para pengikut (bawahan), sehingga semua merasa memiliki dan kemudian mau melaksanakan program itu bersama-sama dan terpadu untuk mencapai tujuan. Hal ini diutarakan dalam firmannya:”Orang-orang yang menerima seruan Tuhannya dan menegakkan shalat, serta urusan antara mereka diputuskan secara musyawarah..”(42:38).
Kedua, perbedaan persepsi hanya Allah pemutusnya,”…jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu (masalah), maka kembalikan kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul..”(4:59).
Ketiga, Allah menetapkan dan mengambil alih orang-orang yang memotong urusan agama (mempermainkan).”Mereka telah memotong-motong urusan (agama) mereka diantara mereka. Kepada Kamilah tiap-tiap golongan itu akan kembali”(21:93).
Keempat, seorang pemimpin harus berusaha untuk menjaga persatuan dan kekompakan para bawahan, karena itu merupakan perintah Allah yang wajib dilaksanakan:”Berpegangteguhlah dengan agama Allah dan jangan bercerai berai”.(3:103;8:46).
Kelima, seorang pemimpin menurut Islam harus selalu berlaku adil dalam memecahkan suatu masalah atau dalam memberikan sanksi/menghukum bawahan, sesuai dengan kesalahannya dan tidak dipengaruhi oleh sentiment pribadi atau berbeda paham (4:58;16:90;38:26;42:15).
Keenam, fungsi seorang pemimpin dalam konteks pengawasan tidak lain kecuali melakukan tugas menyeru kepada kebajikan, dan mencegah perbuatan keji dan mungkar (amar ma’ruf nahyi mungkar), sebagai manifestasi sebaik-baik ummat (dan juga pemimpin ) yang dibangkitkan ketengah-tengah manusia(3:110).
Ketujuh, seorang pemimpin yang dicontohkan oleh Qur’an serta dipraktekkan dalam kehidupan Rasulullah s.a.w, ialah menyampaikan dan menjaga amanah, dalam arti bahwa seorang pemimpin harus mampu memberikan contoh kepada bawahan atau anggota organisasinya tentang kejujuran. Tidak membohongi public dan tidak melakukan penyimpangan dan penipuan dalam pengelolaan keuangan. Firmannya:
“ Sesungguhnya Allah menyuruh kalian untuk menunaikan amanat kepada yang berhak. Dan jika kalian memerintah/memutus perkara diantara manusia, hendaklah kalian memerintah/memutus perkara secara adil. Sesungguhnya Allah memberikan pengajaran yang sebaik-baiknya kepada kalian. Allah sesungguhnya Maha Mendengar, Maha Melihat”.(4:58).
Sifat dan Karakteristik Pemimpin
Dalam teori-teori managemen oleh para ahlinya memang dikemukakan berbagai sifat dan karakter yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, tetapi sepanjang dicatat oleh sejarah, tidak ada bandingannya dengan sifat-sifat dan karakter yang dicontohkan dan dipraktekkan oleh Rasulullah s.a.w. dalam sunnah beliau. Diantara sifat-sifat tersebut ialah:
Sabar, ketika kaum kafir Quraisy menghujat dan menyakiti beliau, dengan berbagai cara, sampai melemparkan kotoran unta ketubuh beliau pada saat beliau sedang sholat. Diterimanya itu dengan kesabaran yang luar biasa. Dengan sabar dan penuh kepercayaan dan keyakinan luar biasa. Dengan sabar, penuh kepercayaan dan keyakinan akan rahmat Allah, beliau terus menyampaikan risalah Islam tanpa takut.”Maka bersabarlah kamu sebagaimana mereka yang mempunyai keteguhan hati (ulul ‘azmi) dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu minta disegerakan azab kepada mereka…”(46:35). Nabi sangat sabar tawakkal, meskipun berdakwah 13 tahun di Makkah, pengikutnya hanya kurang lebih 200-an orang. Padahal beliau seorang Rasul terpilih.
Perasa, Subhanallah, Nabi umat terpilih ini mudah sekali tersentuh perasaan beliau (sensitif/peka), bila melihat kepedihan dan penderitaan para sahabat dan pengikutnya yang telah memilih Islam sebagai pedoman hidupnya.
“Sungguh-sungguh telah dating kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian, yang mulia hatinya dan mudah tersentuh hatinya terhadap apa yang kalian hadapi. Dia sangat ingin melihat kalian tetap beriman teguh, dan dia amat lembut dan pemurah kepada orang-orang mu’min”(9:129).
Lemah lembut sebagai salah satu sifat lainya yang dimiliki Nabi. Bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, Muhammad yang masih tergolong pemuda sangat ramah dan supel kepada setiap orang. Orang yang lebih tua dihormati, kepada yang lebih muda ia sangat mengasihi. Dalam pergaulan Muhammad tidak membedakan strata social seseorang. Karena sifatnya itulah, maka Muhammad digelari “al-amin”, orang yang dipercaya, jujur (3:159).
Besar cinta kasih beliau kepada sahabat dan para pengikut beliau, tetapi bersikap tegas dan keras terhadap kekufuran.Sering terjadi Nabi meminta Humaira (Aisyah) untuk memberikan makanan kepada orang yang datang meminta sesuatu kepadanya. Padahal persediaannya hanya tersisa untuk makanan beliau. Sebaliknya, sikap serta penolakan beliau terhadap kuffar sangat keras, sebagaimana disebutkan sebagian sifat itu dalam Qur’an (48:29).
Akhlak beliau sangat mulia. Ketika orang bertanya kepada Aisyah, sebanding apakah Akhlak Nabi, Aisyah menjawab akhlak beliau tidak dapat dibandingkan dengan dengan akhlak siapapun. Akhlak belau adalah al-Qur’an, karena beliau memang dibangkitkan untuk memperbaiki akhlak manusia.Akhlak beliau yang mulia dipuji Allah (68:4). Sejak remaja pun Muhammad tidak pernah ikut-ikutan “menghormati” berhala yang disembah oleh kaum Quraisy jahiliah.
Toleransi beliau terhadap pemeluk agama lain tinggi sekali. Malahan ketika jenazah orang Yahudi lewat di hadapan beliau dan para sahabat, beliau bangkit berdiri dan menundukkan wajah, sehingga beberapa sahabat heran. Beliau sering menyerukan ahli kitab (Yahudi, Nasrani) untuk kembali kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak menyekutukan-Nya, dengan penuh argument (3:64).

€. Kriteria Pemimpin

“Nabi mereka berkata kepada mereka: Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian. Mereka menjawab: Bagaimana Thalut memerintah Kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dari padanya, sedangkan dia tidak diberi kekayaan yang banyak ? (Nabi mereka) berkata: Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi Raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa. Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqarah:247)
Mencari dan menetapkan figure calon seorang pemimipin, apalagi seorang pemimpin Bangsa, memang bukan hal yang mudah. Sebab, figur seorang pemimpin itu berkaitan erat dengan berbagai faktor seperti kekuatan intelegensia, ketahanan mental, komitmen moral, dan integritas kepribadian. Tidak kalah pentingnya adalah kekuatan serta kesehatan fisik.
Sejarah mengungkapkan kepada kita melalui kitab suci bahwa Bani Israel pernah mengalami krisis kepemimpinan di saat mereka menghadapi ancaman bahaya dari luar. Ketika itulah mereka sangat mendambakan kehadiran pemimpin yang kuat, karena mereka tidak mempercayai lagi pemimpin yang ada. Sedangkan ancaman yang datang dari luar negeri semakin berat. Musuh yang mereka hadapi ketika itu dipimpin oleh seorang raja yang terkenal sangat kuat, yakni raja Jalut (Goliath) dari Palestina.
Bani Israel ketika itu dalam posisi yang sangat lemah. Mereka belum punya Negara kesatuan kecuali kelompok-kelompok kecil di bawah pemerintahan keqadhian, diperintah oleh seorang qadhi, yang masing-masingnya berdiri sendiri. Oleh karena itu, secara keseluruhan mereka lemah saat berhadapan dengan musuh yang datang dari luar. Mereka meminta kepada Rasulnya, Samuel, agar diangkat seorang rajan yang dapat memperjuangkan nasib mereka dan memimpin peperangan dalam melawan musuh. Lalu Samuel memperingatkan mereka bahwa Allah akan menjadikan Thalut sebagai pemimpin (al-Baqarah:247).
Perkhabaran yang disampaikan oleh utusan Allah itu rupannya langsung dibantah oleh kaumnya. Hal ini terlihat dalam jawaban mereka “bagaimana Thalut dapat memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan dari padanya, lagi pula dia bukan orang kaya”. Alasan mereka untuk menolak Thalut kelihatannya sangat sederhana, yaitu Thalut bukan seorang yang memiliki yang banyak. Jadi yang dijadikan ukuran oleh orang-orang di masa itu untuk diangkat sebagai pemimpin ialah kekayaannya, bukan kemampuannya. Hal itu dijelaskan oleh Samuel bahwa Allah telah memilih Thalut sebagai pemimpin kalian bukan berdasarkan kekayaan melainkan karena ia mempunyai kelebihan dari segi “keluasan ilmu dan ketahanan fisik” (bashthah fil ‘ilmi wal jismi). Demikianlah paradigma yang berkembang di kalangan bani Israel ketika itu sehingga mereka sudah terjebak kepada persepsi yang salah atau keliru dalam menetapkan criteria seseorang yang akan dijadikan pemimpin.
Keluasan Ilmu
Di sini tampaklah bahwa salah satu persyaratan terpenting bagi seorang pemimpin itu ialah kekuatan daya integensia serta keluasan ilmu. Seorang pemimpin tidak harus memiliki keahlian dalam segala bidang, sebab itu adalah suatu yang tidak mungkin terjadi. Namun ia harus berpengetahuan yang luas sehingga mempunyai wawasan yang luas, terutama yang berkaitan dengan kepemimpinan dan kebangsaan. Paling tidak, ia harus ahli dalam memilih dan menentukan orang-orang yang akan diangkat menjadi pembantu-pembantunya. Diharapkan, ia dapat menempatkan orang-orang yang sesuai dengan bidang keahliannya(the right man on the right place) sebagaimana yang tersirat dalam (al-Isra 84). Sebab, menempatkan seorang pada tempat (jabatan) yang sesuai dengan bidang keahliannya adalah merupakan ciri dari amanahnya seorang pemimpin. Sebaliknya, menempatkan seseorang pada jabatan yang bukan bidang keahliannya berarti sebuah penghianatan yang akan menimbulkan malapetaka (kiamat) seperti yang tersebut dalam sebuah Hadist riwayat Muslim.
Ketegaran Fisik
Persyaratan kedua yang tak boleh diabaikan bagi seorang yang akan dijadikan pemimpin ialah ketegaran fisik (bahthah fil jismi). Pada hakikatnya kerja seorang pemimpin itu tidak terbatas pada jam-jam resmi saja. Boleh dikatakan tugas seorang pemimpin itu hamper 24 jam dalam sehari, mengingat tangungjawabnya yang besar terhadap rakyatnya. Oleh karena itu, seorang pemimpin haruslah seorang yang memiliki fisik yang sempurna, kesehatan prima dan selalu energik, tidak loyo. Agar ia dapat melaksanakan tugas-tugas kepemimpinan secara optimal dan penuh rasa optimistis. Bila persyaratan ini tidak terpenuhi, maka yang akan terjadi justru pemimpin yang menjadi beban bangsanya, bukan yang mengatasi beban permasalahan bangsanya.
Persyaratan-persyaratan inilah yang telah dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya bernama Thalut, sehingga ia sukses menghantarkan Bani Israel menuju kehidupan yang lebih baik dan selamat dari ancaman musuh yang kuat. Kepintaran Thalut terlihat dalam ketepatannya memilih Daud sebagai orang kepercayaannya dalam peperangan melawan pasukan Jalut. Sehingga Daud dapat membunuh raja yang terkenal sangat kuat itu (al-Baqarah:251). Bila dilihat dari asal usul keturunannya. Thalut bukanlah turunan bangsawan (ningrat), bukan seorang konglomerat, dan bukan pula seorang anak pejabat, namun ia mempunyai beberapa kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya pada masanya. Kelebihan-kelebihan itu seperti dijelaskan secara rinci oleh mufassir Ibnu katsir adalah (1) A’lam, yakni lebih berilmu dari pada yang lainnya. (2) Anbal, yaitu lebih mulia hatinya. (3) Asykal(syaklu hasan) yakni lebih memiliki bentuk yang tampan (4) Asyaddu quwwah, yakni sangat tegar/kuat fisiknya.(5). Shabr, yakni sangat tinggi tingkat kesabarannya dalam berperang/berjuang, dan (6) Ma’rifah, yakni punya kearifan tentang perjuangan itu sendiri.
Bangsa kita saat ini tengah berjuang mencapai cita-citanya sebagai tertuang dalam pembuakaan UUD 45 yang sekaligus menjadi tujuan Indonesia merdeka. Yaitu, melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social. Karena itu bangsa ini sedang membutuhkan figure seorang pemimpin yang benar-benar punya kemampuan (capabilitas) dan tingkat penerimaan (acseptabilitas) yang tinggi oleh berbagai kalangan. Sebab bangsa kita adalah bangsa yang sangat plural baik dari segi agama, budaya, bahasa, adat istiadat, dan kepentingan. Namun di atas itu semua ada tujuan yang lebih besar dilihat dari segi kehidupan berbangsa yaitu mengangkat kehidupan rakyat dari deraan kemiskinan, baik miskin harta maupun ilmu pengetahuan. Akibat dari kemiskinan itu, bangksa Indonesia senantiasa berada pada halaman belakang (back yard) bangsa-bangsa Asia Tenggara. Benarkan Indonesia tergolong dalam Negara miskin ? Ini tentiu perlu jawaban yang lebih rinci lagi, karena selama ini Indonesia termasuk negeri yang terbilang kaya dengan sumber daya alamnya. Namun, lantaran pengurusannya yang tidak benar sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 33 UUD 1945, maka mayoritas rakyatnya selalu saja hidup menderita dari masa ke masa. Meskipun sudah silih berganti pemimpin yang naik turun tahta, dan berbagai aturan perundang-undangan sudah dihasilkan, namun bila aturan tidak dilaksanakan secara konsekuen maka yang terjadi adalah kesenjangan ekonomi yang mengakibatkan terjadinya kecemburuan social di mana-mana, lalu berlanjut dengan berbagai kerusuhan dan berbuah diintegrasi bangsa yang tidak diinginkan terjadi.
Jangan Salah Pilih
Tidak lama lagi bangsa kita akan menghadapi event besar, pesta limatahunan yang lazim disebut dengan pesta demokrasi, yaitu Pemilihan Umum (Pemilu). Pemilu hanyalah sebuah sarana untuk memilih kepemimpinan bangsa sebagai layaknya Negara yang berdemokrasi. Sedangkan partai-partai politik hanyalah salah satu wahana (kendaraan) menuju sebuah kekuasaan. Partai bukanlah tujuan tetapi hanyalah sekedar alat guna mencapai tujuan oleh kalangan tertentu. Ini terbukti, ketika tujuan mereka sudah tercapai banyak diantara yang tidak lagi memperhatikan penopang dari alat tersebut, yaitu rakyat yang menjadi basis konstituennya. Kita tahu bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah ummat Islam dengan sendirinya kemenangan partai apa saja dalam Pemilu nanti adalah mustahil tanpa dukungan dari ummat Islam. Kini persoalannya adalah, apakah kita ummat Islam hanya akan dijadikan alat sementara, guna mengantarkan mereka ke kursi kekuasaan, ataukah kita juga akan dijadikan mitra dalam menentukan kemaslahatan bangsa ini ke depan. Karena itu, kepada saudara-saudara sesame muslim, baik yang berada dalam lingkungan partai-partai Islam, partai-partai yang berbasiskan konsistuen Muslim, maupun partai-partai lainnya, hendaknya menyadari benar bahwa partai bukanlah tujuan yang hidup dan mati kita tergantung padanya. Partai hanyalah wahana perjuangan saja. Tujuan yang lebih besar dari semua itu ialah bagaimana meningkatkan harkat dan martabat hidup bangsa ini ke depan setelah sekian tahun terpuruk dalam multi krisis. Karena itu, marilah kita mengacu kepada Al-Qur’an dalam menetapkan kriteria seorang pemimpin. Bukan hanya mengacu kepada kepentingan partai atau golongan yang hanya bersifat sementara itu.

€. Pemimpin-pemimpin Muda
Akhir-akhir ini bangkit keinginan atau gerakan kaum muda untuk menduduki jabatan-jabatan negara, menggantikan politisi tua yang selama ini dinilai tak becus memberikan kesejahteraan kepada rakyat. Niat ini baik, tetapi perlu beberapa catatan.
Kekacaubalauan pemerintahan birokrasi modern Indonesia selama ini-yang mengakibatkan kelakuan korup di mana-mana tak dapat dipahami tanpa menelusur genealoginya.
Asal mula kemodernan bukan niat kita sendiri, tetapi dari kolonialisme Belanda. Kalau Belanda tidak menjajah Indonesia, negara ini masih dikuasai raja-raja dengan system feodalnya. Belanda yang memaksa kita untuk menjadi modern karena pemerintahan birokrasi mereka memang modern.
Pada zaman kolonial, terutama sejak awal abad ke-20, pemerintah kolonial belanda membentuk negara birokrasi yang nonpolitik. Pemerintah kolonial tidak didasari oleh kepentingan partai politik tertentu dari pihak Belanda. Pemerintahan kolonial ini murni dari melayani keinginan partai-partai politik.
Dualisme pemerintahan
Negara Hindia-Belanda menganut dualisme pemerintahan. Pemerintahan inti adalah golongan Belanda yang menduduki jabatan puncak, yakni Gubernur jenderal, sampai gubernur-gubernur dan residen. Sementara para residen mendampingi pemerintahan tingkat kedua yang terdiri dari para raja, bupati, wedana. Pemerintahan tingkat dua ini tidak modern birokratik, tetapi tradisional-feodalistik, bahkan bersifat adat.
Selama masa kolonial tak ada orang Indonesia yang dapat menduduki jabatan kolonial, sekurang-kurangnya residen, apalagi menjadi gubernur. Orang-orang Indonesia selama ini tidak mempunyai pengalaman dalam tata kerja system birokrasi modern pemerintahan. Mereka hanya mengenai tata pemerintahan “tradisional” sejak dahulu kala.
Jadi setelah kemerdekaan, para pejabat negara Indonesia yang baru ini sama sekali tidak punya pengalaman dalam birokrasi pemerintahan modern. Pengalaman mereka adalah pemerintahan Indonesia lama yang patrimonial, primodial, feodal. Pejabat adalah segalanya. Jabatan adalah kekuasaan itu sendiri, yakni negara itu sendiri.
Apapun boleh dilakukan karena pemerintahan adalah miliknya.
Keadaan tidak berpengalaman modern ini lebih diperparah lagi dengan munculnya berbagai gerakan nasional. Tentu saja semua gerakan nasional ini baik dan positif karena tujuan utamanya bebas dari pemerintahan colonial. Tetapi, gerakan-gerakan ini sejak awal menganut berbagai ideologi yang saling bertentangan. Tak pernah ada persatuan ideologi politik yang sesungguhnya sampai sekarang.
Tujuan gerakan-gerakan nasional ini jelas, yakni mengusir pemerintahan birokrasi kolonial dan membentuk pemerintahan dan negara Indonesia secara politis. Jadi, negara politik menggantikan negara nonpolitik (apolitik).
Salah Urus Negara
Sekarang ini ada dua macam “penyakit” bangsa, yakni system pemerintahan setengah patrimonial-tradisional dan setengah modern. Ini karena kita tak pernah memiliki pengalaman birokrasi modern tingkat residen, gubernur, dan gubernur jenderal colonial. Kedua, kita membentuk negara partai bukan negara apolitik, negara yang mengatasi partai-partai.
Sistem birokrasi serba tanggung inilah yang mengakibatkan kita salah urus negara. Kita semua sebenarnya manusia banci. Bukan lelaki atau perempuan tulen. Tugas pemimpin muda sekarang adalah menjadi lelaki tulen itu. Menjadi birokrat modern seratus persen tanpa bisa patrimonial dan kepartaian.
Menilik usia mereka di bawah 50 thn (mengikuti Obama dan Kennedy), kelahiran mereka tahun 1960-an, saat Orde baru mulai berkuasa.
Dekonstruksi besar-besaran
Pengalaman system pemerintahan yang tanggung ini adalah musuh utama mereka. Orang-orang ini harus tidak teracuni oleh alam pikiran kaum tua yang genealoginya colonial. Kaum muda ini harus benar-benar pascakolonial, yang paham betul makna birokrasi pemerintahan modern yang murni. Pertama-tama mereka harus mampu menciptakan sebuah system baru yang bebas dari system gado-gado selama ini.
Tugas mereka berat, yakni dekonstruksi besar-besaran. Pemerintahan mereka harus bersih dari alam pikiran tua yang kini masih dominan. Banyak veteran colonial yang hingga kini masih hidup. Pikiran dan sikap tanggung kebencian harus diganti. Karena mereka juga produk dari alam pikiran kacau itu dan sama sekali belum memiliki pengalaman birokrasi modern yang sesungguhnya (kecuali yang bekerja diperusahaan asing), pembelajaran dan pelatihan system birokrasi modern harus disiapkan. Mengubah budaya tidak semudah membalik telapak tangan, main simsalabim.
Pembongkaran cara berfikir sistemik ini tidak boleh jatuh ke zonesentrisme, kebiasaan adopsi cara berfikir asing tanpa kompromi. Indonesia memiliki historistasnya sendiri yang berbeda dengan bangsa-bangsa dan negara lain yang sudah maju. Kebiasaan asal meniru ini juga bawaan colonial, karena kita warga kelas dua, semua yang berasal dari warga kelas satu colonial kita puja dan kita tiru.
Menguasai data empiris Indonesia adalah adalah titik tolak pembongkaran. Kita baru mampu membangun yang baru jika menguasai apa yang akan kita bongkar. Kemampuan semacam ini rata-rata sudah ditinggalkan bangsa Indonesia.
Banyak yang harus dipelajari selain niat baik saja.
Kepemimpinan Muhammad ( Leadership of Muhammad )

Bagi umat Islam, sosok Muhammad lebih dilihat dan diposisikan sebagai seorang nabi, yang dalam setiap langkahnya senantiasa mendapatkan bimbingan wahyu dari Allah SWT.Karena itu, sosok Muhammad kemudian sering dipersepsikan sebagai manusia super (superhuman).
Padahal berdasar keterangan yang tercantum dalam teks-teks Al-quran, Muhammad juga manusia. Meski demikian, Muhammad telah membuktikan diri sebagai tokoh ideal, yang menjadi suri tauladan bagi umat Islam dan juga manusia pada umumnya.
Misi utama Muhammad diturunkann ke bumi tak lain untuk membangun peradaban dunia, secara mikro untuk menyempurnakan akhlak manusia itu sendiri ( li utammima makarim al-akhlaq).
Karena itu, menarik untuk dikaji bahwa kecintaan dan kekaguman masyarakat kepada sosok Muhammad sesungguhnya tidak hanya tersekat pada umat Islam saja, melainkan juga meliputi para pemerhati dan tokoh sejarawan masyhur yang berasal dari lintas agama.
Riwayat hidupnya sangat transparan dan terang benderang dalam panggung sejarah dunia, dari masa kelahiran hingga akhir hayatnya. Sehingga terbuka bagi siapapun untuk mengkaji perjalanan hidup putra Abdullah itu.
Kehidupan Muhammad mudah ditelaah secara ilmiah histories. Karena itu, banyak pemerhati Islam dari Barat atau kaum Orientalis (meminjam istilah Edward Said) sangat mengagumi peranan dan prestasi Muhammad sebagai tokoh sejarah dan tokoh pembangun peradaban yang sangat berpengaruh hingga saat ini.
Bayangkan, putra Siti Aminah itu terlahir di hamparan padang pasir, dimana daerah itu hamper dipastikan tidak membuat orang luar tertarik untuk menaklukan atau berkunjung karena kegersangan dan keganasanya. Muhammad juga tumbuh besar sebagai yatim piatu.Tempaan hidup dan petunjuk Allah memberikan kekuatan kepada dirinya untuk megubah dataran padang pasir itu menjadi pusat peradaban (the center of civilization) yang sangat mengagumkan.
Bagi komunitas muslim, kekuatan ini dipahami sebagai bagian dari intervensi Tuhan lewat Jibril yang ditugaskan untuk membimbing setiap jejak dan langkah Muhammad. Tapi bagi orang yang tidak percaya pewahyuan, mereka tetap mengagumi sosok Muhammad sebagai penggerak dan pencetus peradaban baru di tanah Arab, yang kemudian meluas hingga memberikan warna-warni peradaban dunia.
Diakhir hayatnya Muhammad mewariskan himpunan kitab suci Alquran, Hadist, serta tradisi yang masih berkembang sampai sekarang dan dipeliharan secara militant oleh umat Islam. Bahkan, konsep kehidupan masyarakat yang ideal berhasil beliau rumuskan, yang termanifestasikan dalam kehidupan kota Madinah.
Pola social masyarakat Madinah itu sendiri sesungguhnya merupakan konsep politik-sosiologis sebagai masyarakat yang beradab. Kata Madinah itu sendiri berarti madani atau berkeadaban. Itu ditandai dengan tegaknya pranata hukum, penghargaan pada pluralitas, toleransi, demokrasi dan kekuatan ilmu pengetahuan, yang pada abad keenam itu bahkan dapat dikategorikan terlalu maju disbanding belahan bumi yang lain.
Sampai sekarang, warisan-warisan agung itu terbukti sesuai dengan prinsip modernitas
( sahih likulli zaman wa makan), baik dalam ilmu pengetahuan ekonomi maupun politik. Prinsip-prinsip kemanusiaan, demokrasi, HAM, dan ilmu pengetahuan, semuanya itu secara nilai sudah dikenalkan oleh Muhammad. Karena itu, bagi umat Islam, modernitas sama sekali tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya. Kalau saja dunia Islam saat ini acapkali bersitegang secara vis to vis dengan masyarakat barat, itu sebenarnya tidak terletak pada dimensi keilmuan dan nilai keagamaan yang dipegang, melainkan lebih disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi dan politik.
Dengan demikian, sosok Muhammad tetap menjadi model pemimpin bagi umat Islam yang tidak tertandingi. Diantara sekian banyak tokoh sejarah, ketika kita semakin meneliti dan mengenal semakin dekat, biasanya kita akan menemukan titik-titik kelemahannya. Tetapi, ini tidak berlaku pada sosok Muhammad. Banyak orang yang semula membenci, setelah mereka mempelajari secara jujur sejarah Muhammad, akhirnya mereka mengakui keluhuran pribadinya, kehebatan ajaranya yang sejalan dengan hati nurani dan nalar sehat.
Salah satu peristiwa sejarah yang sangat menarik direnungkan adalah saat Muhammad berada di puncak kemenangannya saat menaklukan Makkah, beliau justru bersikap rendah hati, tidak sombong, mengajak bertasbih, bertahmid, dan beristighfar kepada Allah. Bahkan, setiap perlakuan kasar dan tidak senonoh yang diterima dari para musuhnya dengan mudah dimaafkan.
Maknanya, Muhammad memimpin umatnya dengan nalar kritis, dengan hati yang tulus, cinta kasih, dan sikap pemaaf. Sikap inilah yang perlu direnungkan dan diteladani oleh para pemimpin hari ini. Yakni, pemimpin yang mendorong peradaban yang ditopang dengan akal kritis dan melahirkan ilmu pengetahuan, dengan hati yang tulus yang menyebarkan kasih sayang dan persahabatan. Karena itu, wajar jika Muhammad menjadi tokoh panutan yang dicintai, yang mampu menggerakkan umatnya dan selalu memberikan inspirasi brilian.
Karena itu, umat Islam hendaknya benar-benar memahami karakter kepemimpinannya secara komprehensif. Memang, kita perlu sepantasnya memberikan apresiasi kepada komunitas muslim Indonesia yang memiliki tradisi peringatan kelahiran Muhammad secara meriah. Tetapi, penghormatan itu hendaknya lebih daripada sekadar seremoni dengan mengalunkan shalawat nabi, tapi juga mempelajari riwayat hidupnya lebih serius dan ilmiah, untuk meneladani model kepemimpinannya.
Jangan sampai kita lebih sering menyanjung dan menjadikan model teladan tokoh lain, sementara kita sendiri justru tidak akrab dan tidak kenal dengan pemimpin sendiri.Untuk itu, marilah umat Islam sekalian meneladani figur Muhammad sebagai spirit untuk membangun bangsa lewat kerja keras, kerja cerdas, dan ikhlas.

€. Kepemimpinan Rumah Tangga dan Publik

“Kaum pria adalah pelindung kaum wanita karena Allah mengutamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena apa yang mereka biayai dari harta benda mereka. Wanita yang baik adalah wanita yang taat, yang menjaga diri di saat (suami) sedang tidak ada seperti yang diperintahkan oleh Allah untuk dijaga.Wanita yang kalian khawatirkan berbuat nusyuz (penyimpangan), maka beri pelajaranlah mereka, jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Bila mereka mentaati kalian, maka jangan kalian cari jalan untuk menyusahkan mereka .Allah itu sesungguhnya Maha Agung”(An-Nisa:34)
Ibnu katsir yang menafsirkan ayat di atas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “kaum pria sebagai pelindung kaum wanita” adalah bahwa “laki-laki merupakan pelindung (qiyam) perempuan; yaitu sebagai kepala, ketua, pengurus (hakim) dan pendidik serta pelurusnya bila menyimpang dari jalan yang benar”.Dalam hal ini, pria didahulukan selangkah dalam dalam penegakan hukum dan disiplin dalam keluarga. Langkah pendisiplinan yang ditempuh, pertama adalah pemberian pelajaran. Bila tidak berhasil, langkah kedua tidak melayaninya di tempat tidur, baik masih tidur di satu ranjang maupun dengan pisah ranjang. Bila juga tidak berhasil, maka langkah terakhir adalah pemberlakuan sanksi fisik berupa pemukulan, tetapi menurut hadist shahih, pemukulan yang tidak membekas ditubuh (dhaban ghaira mubarrih, Hadist no. 2137, riwayat Muslim, Mawsu’ah al-Hadist). Intinya adalah teguran agar sang istri kembali ke jalan yang benar.
Sebagai kepala keluarga, maka pertama-tama suami bertanggung-jawab kepada Allah dalam penegakan hukum dan disiplin ini. Setelah itu, ia bertanggung-jawab kepada ayah atau wali sang istri yang telah menyerahkan tanggung-jawab perlindungan puteri atau orang yang berada di bawah perwaliannya sewaktu akad nikah. Karena itu, bila terjadi sengketa dalam pengurusan rumah tangga, maka Al-Qur’an meminta agar keluarga kedua belah pihak mengambil inisiatif untuk penyelesaian sengketa. Wakil-wakil kedua belah pihak ini disebut hakam (wasit) yang berusaha menegakkan hukum dan disiplin keluarga secara informal. Wasit keluarga ini tak obahnya seperti wasit dalam permainan olah raga yang bertugas menjaga aturan main sebagaimana mestinya dan mendamaikan pihak-pihak yang berseteru.
Kelanjutan ayat di atas berbunyi:
“ Bila kalian khawatir perpecahan diantara mereka berdua, maka utuslah seorang hakam (wasit) dari pihak keluarga pria dan seorang hakam dari pihak keluarga wanita. Bila keduanya menginginkan perdamaian, maka Allah akan memberikan taufik kepada mereka berdua. Allah itu sesungguhnya Maha Tahu, Maha Ahli”(An-Nisa’:35).
Ayat ini memberi isyarat bahwa perkawinan tidak hanya perjanjian suci antara kedua pasangan suami-isteri, tetapi juga mengikutsertakan keluarga kedua belah pihak. Hakam ini bisa betul-betul berasal dari keluarga atau orang lain yang diutus oleh keluarga untuk tujuan perdamaian. Bila kedua belah pihak menyadari kekeliruan masing-masing, sehingga terjadi perdamaian, maka mereka mendapat taufik dari Allah. Salah satu arti kata taufik (tawfiq) dalam bahasa Arab adalah kecocokan atau sesuai dengan kehendak Allah. Ia cocok karena usaha perdamaian adalah salah satu ketentuan hukum Allah, dan karena itu Allah akan mencocokan kedua orang hambanya ini dan anak cucu yang mereka hasilkan, dan Insya Allah mereka tidak akan cekcok sampai akhir hayat. Bahkan mereka akan tetap cocok dalam pertemuan di hari akhirat nanti.
Dengan demikian, cocok dengan ketentuan hukum Allah dalam mengatur perkawinan merupakan prasyarat untuk mendapatkan kecocokan dalam kehidupan keluarga. Allah mensyari’atkan hukum perkawinan supaya pihak-pihak yang terlibat di dalamnya mendapatkan ketenangan hidup dan melahirkan keturunan dan warga yang baik sebagai penerus generasi masa depan. Perkawinan yang mendapat taufik dari Allah menjadi unsur yang sangat penting dalam mendukung sendi-sendi peradaban maju. Inilah salah satu makna manusia sebagai khalifah Allah di bumi yang Ia beri mandat untuk membangun ini sesuai dengan hukum kecocokan yang Ia tentukan. Hukum kecocokan secara umum dalam khazanah hukum Islam disebut hukum fithrah atau hukum kreasi (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia dan seluruh jagat raya dan menciptakan pula hukum yang cocok untuk manusia dan alam raya yang telah Ia ciptakan.
Karena itu perceraian merupakan salah satu yang mendapat amarah Allah. Perceraian merupakan pengecualian, disaat perdamaian tidak mungkin terwujud lagi antara keluarga kedua belah pihak dan bila kelanjutan perkawinan dikhawatirkan akan berakibat lebih buruk. Dua hal inilah yang menjadi pertimbangan para hakim dalam mengabulkan gugatan para suami atau istriyang diajukan kepada mereka.
Hal kedua yang menjadikan kaum pria didahulukan selangkah dalam kepemimpinan keluarga adalah tanggung-jawab pembiayaan. Ibnu katsir selanjutnya mengatakan bahwa pria sebagai suami mendapat beban dalam Qur’an dan Sunnah untuk pembiayaan mahar, nafkah, dan kewajiban-kewajiban keluarga yang lain. Dengan demikian, keuangan keluarga tidaklah merupakan tanggung-jawab istri. Tanggung-jawabnya adalah membina keluarga kedalam sebagai ibu rumah tangga dengan membesarkan anak-anak penerus generasi, menanamkan nilai-nilai positif kepada mereka, mengurus serta mengawasi keperluan domestik keluarga, menggairahkan kehidupan dan lain-lain. Tugas ini tidak kalah pentingnya dari tugas mencari rezki yang menjadi tanggung-jawab suami.
Karena itu, dalam ketentuan hukum Islam, penghasilan yang didapatkan oleh istri, misalnya dari hibah,wasiat dan warisan, tidak digunakanuntuk pembiayaan keluarga, kecuali bila itu dilakukan dengan kerelaannya dengan dalih untuk membantu suami, menambah pemasukan keluarga dan lain-lain. Istri boleh saja bekerja diluar rumah bila itu tidak mengganggu tanggung-jawabnya sebagai ibu rumah tangga dan mendapat izin dari suami bila pekerjaan tersebut dalam batas-batas yang diizinkan. Ketiga hal ini dapat diperjanjikan antara kedua belah pihak, terutama sebelum akad nikah, sehingga menjadi jelas tentang apa saja yang menjadi batasan tidak melalaikan tanggung-jawab sebagai ibu rumah tangga tersebut dan tentang pekerjaan apa saja yang dinyatakan sebagai boleh menurut hukum Islam.
Pilihan wanita bekerja di luar rumah ini sebenarnya lebih merupakan pilihan pribadi dan keluarga. Keluarga dapat memilih hal yang lebih mashlahat untuk kepentingan mereka dan juga kepentingan masyarakat seperti yang mereka lihat dan bukan yang dipaksakan dari luar oleh orang lain atau hukum. Sebaliknya, pemberian quota tertentu dengan paksa, misalnya, melalui produk perundangan-uandangan untuk lapangan kerja di luar rumah kepada kaum wanita, apalagi di lapangan politik seperti di DPR dan lain-lain, tidak sejalan dengan semangat hukum Islam.
Dalam hal kewajiban dan tanggung-jawab kepada Allah serta perhitungan di hari akhirat, tidak terdapat perbedaan di antara manusia sebagai mahluq Allah, tetapi dalam hal kepemimpinan rumah tangga dan juga kepemimpinan tertinggi Negara, maka kaum pria diutamakan satu tingkat.
“Kaum pria lebih utama satu tingkat di atas kaum wanita”(al-Baqarah:228).
Kepemimpinan berhubungan dengan ketaatan atau loyalitas. Dalam kepemimpinan rumah tangga, maka loyalitas adalah kepada Allah dalam menjalankan hukum keluarga. Pria sebagai suami dan ayah adalah pemimpin yang harus ditaati oleh istri dan anak-anak sebagai anggota keluarga. Ketaatan kepada suami dan ayah dalam batas-batas yang ditetapkan oleh hukum Allah sebagai kepala rumah tangga merupakan suatu keharusan. Rumah tangga adalah unit terkecil masyarakat. Bila dalam masyarakat ada yang disebut pemimpin formal seperti lurah, camat, bupati, walikota, gubernur dan presiden, maka suami atau ayah adalah pemimpin formal dalam rumah tangga. Keberhasilan dan kegagalan pemimpin rumah tangga akan sangat mempengaruhi kepemimpinan masyarakat. Dengan kata lain, keberhasilan kepemimpinan rumah tangga adalah sebuah anak tangga dasar menuju kepemimpinan masyarakat yang berhasil. Dimana-mana diseluruh dunia, kepemimpinan pada umumnya selalu dimulai dari bawah. Keberhasilan dari bawah inilah yang membuat masyarakat memilih seseorang untuk kepemimpinan yang lebih tinggi. Tidak beberapa lama lagi, bangsa Indonesia akan memilih pemimpin nomer satu (presiden) di Negara ini, maka sudah sewajarnya anak bangsa memilihnya dari pemimpin yang sudah pernah teruji berhasil dari bawah, mulai dari kehidupan keluarga.
Ketaatan wanita kepada suami sebagai pelindung dan pemimpin rumah tangga dalam batas-batas yang ditetapkan oleh hukum Allah digambarkan dalam sebuah Hadist riwayat Abu Hurairah yang artinya:
“Perempuan terbaik sebagai istri adalah seorang perempuan apabila engkau memandangnya, ia menggembirakanmu; bila engkau menyuruhnya, ia mentaatimu, dan bila engkau tidak berada di sisinya, ia menjaga dirinya dan harta bendamu”.
Laki-laki, kata ibnu Katsir, diutamakan Allah dari perempuan dalam kepemimpinan, dan karena itu pula, maka kenabian hanya diberikan kepada kaum laki-laki. Hal yang sama, kata beliau, juga berlaku untuk kepemimpinan tertinggi Negara dan jabatan hakim yang memutus perkara masyarakat. Dalam Hadist riwayat al-Bukhari dinyatakan:
“Suatu Bangsa tidak akan pernah berhasilbila diperintah oeh seorang Perempuan”.(Riwayat al-Bukhari no. 4073, CD –ROM Mawsu’ah al-Hadist)
Pernyataan Nabi tersebut terbukti dalam perjalanan politik bangsa-bangsa sampai hari ini. Misalnya, gagasan tentang emansipasi wanita sudah sangat berkembang di dunia modern sampai saat ini, tetapi kendali kepemimpinan public secara umum tetap berada di tangan kaum pria. Kenyataan ini melahirkan beberapa pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Apakah hal ini karena dunia berpihak kepada kaum pria, ataukah keberhasilan segelintir wanita yang menduduki kepemimpinan public karena dukungan suami mereka, ataukah keberhasilan tersebut karena mereka telah melalaikan tugas mereka sebagai ibu rumah tangga yang baik ?

Related Site:

http://managementislam.blogspot.com/


Ψ Terapi Pemimpin Ψ

Belakangan ini makin banyak kita saksikan pemimpin yang “sakit”. Setiap kali tidak terpilih sebagai pejabat public, perilaku-perilaku buruk dipertontonkan kepada public, mulai dari mengancam (bunuh diri, menyerang, dan mengerahkan massa) sampai mengacaukan. Bahkan, pada level presidenyang bergantian pun saling tak bertegur sapa.
Bahasa-bahasa negatif, penuh ancaman, sinis, dan sebagainya ditiru di mana-mana. Dengan mudah orang-orang yang kalah mengevaluasi dan memberi nilai pada kepemimpinan orang yang terpilih dan seakan-akan merekalah guru besarnya.
Penyakit seperti ini sering tidak dirasakan karena yang merasakan tidak enak bukan penderita, tetapi masyarakat yang dipimpin. Penderita itu adalah pemimpin dan calon pemimpin. Mereka semua telah mewarnai perubahan, yaitu perubahan destruktif dan problematik. Untuk menjadikan Indonesia lebih baik diperlukan Leadership Therapy. Mungkin terapi ini bukan untuk pemimpin, tetapi perlu bagi para calon pemimpin masa depan.
Leadership Therapy
Kata Leadership therapy pertama-tama diperkenalkan Anna Rowley yang direkrut Microsoft sebagai psikolog untuk menerapi para eksekutifnya. Saat itu Rowley dilibatkan untuk menangani para pemimpin perusahaan yang kelihatannya bekerja amat keras, tetapi tidak efektif. Banyak orang menghabiskan waktunya sia-sia dan tidak menyadari bahwa cara yang ditempuh menyakiti orang lain.
Maka, terapi atau penyembuhan yang berulang-ulang dibutuhkan. Kunci untuk memahami mengapa seseorang melakukan atau merasakan sesuatu dibuka. Ternyata sumber itu terletak pada pikiran-pikiran otomatik dan kebiasaan yang dibentuk oleh Core Belief. Apa yang kita percayai, otomatis membentuk kita.
Rowley mengajak eksekutif Microsoft berdiskusi. Hasilnya sungguh menakjubkan. Ternyata tidak semua pemimpin punya percaya diri yang kuat, sebagian bahkan tidak punya self esteem (penghargaan diri). Ada juga pemimpin yang takut sukses dan gagal. Latar belakang dan pengalaman hidup seseorang membentuk nilai-nilai yang dianut orang itu.
Fakta berikut ini tak dapat dimungkiri: tidak semua pemimpin itu “menjadi’, melainkan dibentuk orang lain. Bukan karena pengaruhnya yang kuat seseorang menjadi pemimpin, tetapi karena pemberian berupa posisi/jabatan, seseorang merasa menjadi punya pengaruh. Bukan karena kinerja, tetapi karena upaya kelompok, massa, atau keluarga seseorang dinobatkan menjadi pemimpin. Dalam pandangan JC Maxwell, pemimpin demikian disebut sebagai pemimpin terendah (pemimpin level I).
Bisa dibayangkan para pemimpin demikian hidupnya amat tegang mudah tersinggung atau menarik diri, tidak punya pijakan kuat, dan dapat menyakiti masyarakatnya karena jiwanya labil. Amarah tak terkendali, kegagalan tak dapat diterima. Pengakuan terhadap keberhasilan orang lain minim sekali.
Sumber kekecewaan
Belum lama ini dilakukan uji terhadap mahasiswa dengan meminta menjelaskan apa yang mereka ketahui dari buku yang wajib dibaca. Setelah itu mereka diminta memberi nilai sendiri. Sebagian besar mampu memberi nilai yang obyektif. Namun,semakin banyak ditemui yang menulis seadanya, pikirannya kosong tetapi memberi nilai diri sendiri yang tinggi. Misalnya seharusnya mempunyai nilai 35 (dari skor 100) tetapi menilai dirinya dengan 80.
Orang-orang seperti jelas akan menghadapi masalah. Mestinya, jika kompetensinya kurang, seseorang merasa malu dan perlu melatih diri lebih lebih keras lagi, bukannya menuntut penghargaan. Di luar dugaan, belakangan iniada banyak sekali perilaku demikian di dalam masyarakat. Ekspetasi yang tidak realistis seakan-akan bisa dicapai dengan berbagai cara. Mulai dari pemakaian ijazah palsu, iklan personal yang manipulatif, sampai penolakan terhadap pentingnya syarat tingkat pendidikan untuk menduduki jabatan public. Orang seperti ini ada di mana-mana. Di partai, dunia buruh, sampai mahasiswa. Perilaku seperti ini telah menyebar bak penyakit menular.
Selain itu, juga banyak ditemui berbagai serangan terhadap orang yang berkompeten dan bekerja keras. Perekonomian Indonesia menjadi janggal karena tidak didasarkan oleh prestasi. Kaum berprestasi (achievers) tersingkir keluar dan tidak mempunyai habitat yang layak. Panggung dikuasai para medioker yang sakit.
Mereka yang tidak berkompeten atau tak mau bekerja keras, tetapi mengharapkan hasil yang tinggi kelak akan mengalami kekecewaan demi kekecewaan. Rasa tidak puas jika tidak terpilih akan diungkapkan dalam ucapan-ucapan negatif.
Pemimpin yang tidak puas
Pemimpin yang percaya diri akan memiliki keteguhan (confident) dan merasa mampu menyelesaikan tugas dengan berhasil. Mengapa mampu ? Karena berkompoten dan tahu apa yang harus dilakukan. Kompetensi seseorang tidak dapat diperoleh jika tidak didukung core belief yang kuat. Kompetensi yang tidak didukung core belief yang kuat sama dengan orang yang membangun rumah di atas pasir.
Itu sebabnya kinerja di dunia usaha lebih mudah dicapai karena kepemimpinan didasarkan kompetensi dan kompetensi dilihat dari hasil yang dicapai. Pada tataran kenegaraan, situasinya menjadi lebih kompleks karena interprestasi terhadap kinerja yang dicapai oleh pemimpin dilakukan dengan persepsi yang dibingkai kepuasan berbeda-beda.
Pemimpin yang puas merespon keadaan berbeda dengan yang tidak puas. Mereka yang puas dengan dirinya cenderung lebih percaya diri dan lebih percaya pada orang lain. Mereka yang tidak puas, apakah karena kalah bersaing, tidak terpilih (dan tidak mempunyai alternative pilihan) cenderung mempunyai esteem (penghargaan) diri yang rendah.
Maka tak mengherankan jika orang-orang terhormat,elite, cendekiawan, atau politisi yang tidak puas dengan kinerjanya menjadi kritikus kasar, negatif, dan selalu menyalahkan orang lain. Saya mengamati, hal seperti ini sudah menjalar ke mana-mana. Jika ini sudah mengontaminasi organisasi Anda, saatnya untuk mencari mentor dan mengikuti terapi agar segera sembuh dari benih-benih yang negatif.
Terapi itu harus dimulai dengan mengkaji core belief, memeriksanya satu persatu. Saya sering menyebut proses ini sebagai re-setting value atau mengeset ulang nilai-nilai. Semua orang terbentuk dari nilai-nilai yang dianutnya dan nilai-nilai itu bisa terkontaminasi dari apa yang dilihat sehari-hari, dari para pemimpin yang gagal dan tidak puas. Semua yang terkontaminasi perlu disucikan kembali agar kembali sehat dan bersih.