Kepemimpinan Muhammad ( Leadership of Muhammad )
Bagi umat Islam, sosok Muhammad lebih dilihat dan diposisikan sebagai seorang nabi, yang dalam setiap langkahnya senantiasa mendapatkan bimbingan wahyu dari Allah SWT.Karena itu, sosok Muhammad kemudian sering dipersepsikan sebagai manusia super (superhuman).
Padahal berdasar keterangan yang tercantum dalam teks-teks Al-quran, Muhammad juga manusia. Meski demikian, Muhammad telah membuktikan diri sebagai tokoh ideal, yang menjadi suri tauladan bagi umat Islam dan juga manusia pada umumnya.
Misi utama Muhammad diturunkann ke bumi tak lain untuk membangun peradaban dunia, secara mikro untuk menyempurnakan akhlak manusia itu sendiri ( li utammima makarim al-akhlaq).
Karena itu, menarik untuk dikaji bahwa kecintaan dan kekaguman masyarakat kepada sosok Muhammad sesungguhnya tidak hanya tersekat pada umat Islam saja, melainkan juga meliputi para pemerhati dan tokoh sejarawan masyhur yang berasal dari lintas agama.
Riwayat hidupnya sangat transparan dan terang benderang dalam panggung sejarah dunia, dari masa kelahiran hingga akhir hayatnya. Sehingga terbuka bagi siapapun untuk mengkaji perjalanan hidup putra Abdullah itu.
Kehidupan Muhammad mudah ditelaah secara ilmiah histories. Karena itu, banyak pemerhati Islam dari Barat atau kaum Orientalis (meminjam istilah Edward Said) sangat mengagumi peranan dan prestasi Muhammad sebagai tokoh sejarah dan tokoh pembangun peradaban yang sangat berpengaruh hingga saat ini.
Bayangkan, putra Siti Aminah itu terlahir di hamparan padang pasir, dimana daerah itu hamper dipastikan tidak membuat orang luar tertarik untuk menaklukan atau berkunjung karena kegersangan dan keganasanya. Muhammad juga tumbuh besar sebagai yatim piatu.Tempaan hidup dan petunjuk Allah memberikan kekuatan kepada dirinya untuk megubah dataran padang pasir itu menjadi pusat peradaban (the center of civilization) yang sangat mengagumkan.
Bagi komunitas muslim, kekuatan ini dipahami sebagai bagian dari intervensi Tuhan lewat Jibril yang ditugaskan untuk membimbing setiap jejak dan langkah Muhammad. Tapi bagi orang yang tidak percaya pewahyuan, mereka tetap mengagumi sosok Muhammad sebagai penggerak dan pencetus peradaban baru di tanah Arab, yang kemudian meluas hingga memberikan warna-warni peradaban dunia.
Diakhir hayatnya Muhammad mewariskan himpunan kitab suci Alquran, Hadist, serta tradisi yang masih berkembang sampai sekarang dan dipeliharan secara militant oleh umat Islam. Bahkan, konsep kehidupan masyarakat yang ideal berhasil beliau rumuskan, yang termanifestasikan dalam kehidupan kota Madinah.
Pola social masyarakat Madinah itu sendiri sesungguhnya merupakan konsep politik-sosiologis sebagai masyarakat yang beradab. Kata Madinah itu sendiri berarti madani atau berkeadaban. Itu ditandai dengan tegaknya pranata hukum, penghargaan pada pluralitas, toleransi, demokrasi dan kekuatan ilmu pengetahuan, yang pada abad keenam itu bahkan dapat dikategorikan terlalu maju disbanding belahan bumi yang lain.
Sampai sekarang, warisan-warisan agung itu terbukti sesuai dengan prinsip modernitas
( sahih likulli zaman wa makan), baik dalam ilmu pengetahuan ekonomi maupun politik. Prinsip-prinsip kemanusiaan, demokrasi, HAM, dan ilmu pengetahuan, semuanya itu secara nilai sudah dikenalkan oleh Muhammad. Karena itu, bagi umat Islam, modernitas sama sekali tidak bertentangan dengan keyakinan agamanya. Kalau saja dunia Islam saat ini acapkali bersitegang secara vis to vis dengan masyarakat barat, itu sebenarnya tidak terletak pada dimensi keilmuan dan nilai keagamaan yang dipegang, melainkan lebih disebabkan oleh ketidakadilan ekonomi dan politik.
Dengan demikian, sosok Muhammad tetap menjadi model pemimpin bagi umat Islam yang tidak tertandingi. Diantara sekian banyak tokoh sejarah, ketika kita semakin meneliti dan mengenal semakin dekat, biasanya kita akan menemukan titik-titik kelemahannya. Tetapi, ini tidak berlaku pada sosok Muhammad. Banyak orang yang semula membenci, setelah mereka mempelajari secara jujur sejarah Muhammad, akhirnya mereka mengakui keluhuran pribadinya, kehebatan ajaranya yang sejalan dengan hati nurani dan nalar sehat.
Salah satu peristiwa sejarah yang sangat menarik direnungkan adalah saat Muhammad berada di puncak kemenangannya saat menaklukan Makkah, beliau justru bersikap rendah hati, tidak sombong, mengajak bertasbih, bertahmid, dan beristighfar kepada Allah. Bahkan, setiap perlakuan kasar dan tidak senonoh yang diterima dari para musuhnya dengan mudah dimaafkan.
Maknanya, Muhammad memimpin umatnya dengan nalar kritis, dengan hati yang tulus, cinta kasih, dan sikap pemaaf. Sikap inilah yang perlu direnungkan dan diteladani oleh para pemimpin hari ini. Yakni, pemimpin yang mendorong peradaban yang ditopang dengan akal kritis dan melahirkan ilmu pengetahuan, dengan hati yang tulus yang menyebarkan kasih sayang dan persahabatan. Karena itu, wajar jika Muhammad menjadi tokoh panutan yang dicintai, yang mampu menggerakkan umatnya dan selalu memberikan inspirasi brilian.
Karena itu, umat Islam hendaknya benar-benar memahami karakter kepemimpinannya secara komprehensif. Memang, kita perlu sepantasnya memberikan apresiasi kepada komunitas muslim Indonesia yang memiliki tradisi peringatan kelahiran Muhammad secara meriah. Tetapi, penghormatan itu hendaknya lebih daripada sekadar seremoni dengan mengalunkan shalawat nabi, tapi juga mempelajari riwayat hidupnya lebih serius dan ilmiah, untuk meneladani model kepemimpinannya.
Jangan sampai kita lebih sering menyanjung dan menjadikan model teladan tokoh lain, sementara kita sendiri justru tidak akrab dan tidak kenal dengan pemimpin sendiri.Untuk itu, marilah umat Islam sekalian meneladani figur Muhammad sebagai spirit untuk membangun bangsa lewat kerja keras, kerja cerdas, dan ikhlas.
€. Kepemimpinan Rumah Tangga dan Publik
“Kaum pria adalah pelindung kaum wanita karena Allah mengutamakan sebagian mereka atas sebagian yang lain dan karena apa yang mereka biayai dari harta benda mereka. Wanita yang baik adalah wanita yang taat, yang menjaga diri di saat (suami) sedang tidak ada seperti yang diperintahkan oleh Allah untuk dijaga.Wanita yang kalian khawatirkan berbuat nusyuz (penyimpangan), maka beri pelajaranlah mereka, jauhilah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Bila mereka mentaati kalian, maka jangan kalian cari jalan untuk menyusahkan mereka .Allah itu sesungguhnya Maha Agung”(An-Nisa:34)
Ibnu katsir yang menafsirkan ayat di atas menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “kaum pria sebagai pelindung kaum wanita” adalah bahwa “laki-laki merupakan pelindung (qiyam) perempuan; yaitu sebagai kepala, ketua, pengurus (hakim) dan pendidik serta pelurusnya bila menyimpang dari jalan yang benar”.Dalam hal ini, pria didahulukan selangkah dalam dalam penegakan hukum dan disiplin dalam keluarga. Langkah pendisiplinan yang ditempuh, pertama adalah pemberian pelajaran. Bila tidak berhasil, langkah kedua tidak melayaninya di tempat tidur, baik masih tidur di satu ranjang maupun dengan pisah ranjang. Bila juga tidak berhasil, maka langkah terakhir adalah pemberlakuan sanksi fisik berupa pemukulan, tetapi menurut hadist shahih, pemukulan yang tidak membekas ditubuh (dhaban ghaira mubarrih, Hadist no. 2137, riwayat Muslim, Mawsu’ah al-Hadist). Intinya adalah teguran agar sang istri kembali ke jalan yang benar.
Sebagai kepala keluarga, maka pertama-tama suami bertanggung-jawab kepada Allah dalam penegakan hukum dan disiplin ini. Setelah itu, ia bertanggung-jawab kepada ayah atau wali sang istri yang telah menyerahkan tanggung-jawab perlindungan puteri atau orang yang berada di bawah perwaliannya sewaktu akad nikah. Karena itu, bila terjadi sengketa dalam pengurusan rumah tangga, maka Al-Qur’an meminta agar keluarga kedua belah pihak mengambil inisiatif untuk penyelesaian sengketa. Wakil-wakil kedua belah pihak ini disebut hakam (wasit) yang berusaha menegakkan hukum dan disiplin keluarga secara informal. Wasit keluarga ini tak obahnya seperti wasit dalam permainan olah raga yang bertugas menjaga aturan main sebagaimana mestinya dan mendamaikan pihak-pihak yang berseteru.
Kelanjutan ayat di atas berbunyi:
“ Bila kalian khawatir perpecahan diantara mereka berdua, maka utuslah seorang hakam (wasit) dari pihak keluarga pria dan seorang hakam dari pihak keluarga wanita. Bila keduanya menginginkan perdamaian, maka Allah akan memberikan taufik kepada mereka berdua. Allah itu sesungguhnya Maha Tahu, Maha Ahli”(An-Nisa’:35).
Ayat ini memberi isyarat bahwa perkawinan tidak hanya perjanjian suci antara kedua pasangan suami-isteri, tetapi juga mengikutsertakan keluarga kedua belah pihak. Hakam ini bisa betul-betul berasal dari keluarga atau orang lain yang diutus oleh keluarga untuk tujuan perdamaian. Bila kedua belah pihak menyadari kekeliruan masing-masing, sehingga terjadi perdamaian, maka mereka mendapat taufik dari Allah. Salah satu arti kata taufik (tawfiq) dalam bahasa Arab adalah kecocokan atau sesuai dengan kehendak Allah. Ia cocok karena usaha perdamaian adalah salah satu ketentuan hukum Allah, dan karena itu Allah akan mencocokan kedua orang hambanya ini dan anak cucu yang mereka hasilkan, dan Insya Allah mereka tidak akan cekcok sampai akhir hayat. Bahkan mereka akan tetap cocok dalam pertemuan di hari akhirat nanti.
Dengan demikian, cocok dengan ketentuan hukum Allah dalam mengatur perkawinan merupakan prasyarat untuk mendapatkan kecocokan dalam kehidupan keluarga. Allah mensyari’atkan hukum perkawinan supaya pihak-pihak yang terlibat di dalamnya mendapatkan ketenangan hidup dan melahirkan keturunan dan warga yang baik sebagai penerus generasi masa depan. Perkawinan yang mendapat taufik dari Allah menjadi unsur yang sangat penting dalam mendukung sendi-sendi peradaban maju. Inilah salah satu makna manusia sebagai khalifah Allah di bumi yang Ia beri mandat untuk membangun ini sesuai dengan hukum kecocokan yang Ia tentukan. Hukum kecocokan secara umum dalam khazanah hukum Islam disebut hukum fithrah atau hukum kreasi (ciptaan) Allah yang telah menciptakan manusia dan seluruh jagat raya dan menciptakan pula hukum yang cocok untuk manusia dan alam raya yang telah Ia ciptakan.
Karena itu perceraian merupakan salah satu yang mendapat amarah Allah. Perceraian merupakan pengecualian, disaat perdamaian tidak mungkin terwujud lagi antara keluarga kedua belah pihak dan bila kelanjutan perkawinan dikhawatirkan akan berakibat lebih buruk. Dua hal inilah yang menjadi pertimbangan para hakim dalam mengabulkan gugatan para suami atau istriyang diajukan kepada mereka.
Hal kedua yang menjadikan kaum pria didahulukan selangkah dalam kepemimpinan keluarga adalah tanggung-jawab pembiayaan. Ibnu katsir selanjutnya mengatakan bahwa pria sebagai suami mendapat beban dalam Qur’an dan Sunnah untuk pembiayaan mahar, nafkah, dan kewajiban-kewajiban keluarga yang lain. Dengan demikian, keuangan keluarga tidaklah merupakan tanggung-jawab istri. Tanggung-jawabnya adalah membina keluarga kedalam sebagai ibu rumah tangga dengan membesarkan anak-anak penerus generasi, menanamkan nilai-nilai positif kepada mereka, mengurus serta mengawasi keperluan domestik keluarga, menggairahkan kehidupan dan lain-lain. Tugas ini tidak kalah pentingnya dari tugas mencari rezki yang menjadi tanggung-jawab suami.
Karena itu, dalam ketentuan hukum Islam, penghasilan yang didapatkan oleh istri, misalnya dari hibah,wasiat dan warisan, tidak digunakanuntuk pembiayaan keluarga, kecuali bila itu dilakukan dengan kerelaannya dengan dalih untuk membantu suami, menambah pemasukan keluarga dan lain-lain. Istri boleh saja bekerja diluar rumah bila itu tidak mengganggu tanggung-jawabnya sebagai ibu rumah tangga dan mendapat izin dari suami bila pekerjaan tersebut dalam batas-batas yang diizinkan. Ketiga hal ini dapat diperjanjikan antara kedua belah pihak, terutama sebelum akad nikah, sehingga menjadi jelas tentang apa saja yang menjadi batasan tidak melalaikan tanggung-jawab sebagai ibu rumah tangga tersebut dan tentang pekerjaan apa saja yang dinyatakan sebagai boleh menurut hukum Islam.
Pilihan wanita bekerja di luar rumah ini sebenarnya lebih merupakan pilihan pribadi dan keluarga. Keluarga dapat memilih hal yang lebih mashlahat untuk kepentingan mereka dan juga kepentingan masyarakat seperti yang mereka lihat dan bukan yang dipaksakan dari luar oleh orang lain atau hukum. Sebaliknya, pemberian quota tertentu dengan paksa, misalnya, melalui produk perundangan-uandangan untuk lapangan kerja di luar rumah kepada kaum wanita, apalagi di lapangan politik seperti di DPR dan lain-lain, tidak sejalan dengan semangat hukum Islam.
Dalam hal kewajiban dan tanggung-jawab kepada Allah serta perhitungan di hari akhirat, tidak terdapat perbedaan di antara manusia sebagai mahluq Allah, tetapi dalam hal kepemimpinan rumah tangga dan juga kepemimpinan tertinggi Negara, maka kaum pria diutamakan satu tingkat.
“Kaum pria lebih utama satu tingkat di atas kaum wanita”(al-Baqarah:228).
Kepemimpinan berhubungan dengan ketaatan atau loyalitas. Dalam kepemimpinan rumah tangga, maka loyalitas adalah kepada Allah dalam menjalankan hukum keluarga. Pria sebagai suami dan ayah adalah pemimpin yang harus ditaati oleh istri dan anak-anak sebagai anggota keluarga. Ketaatan kepada suami dan ayah dalam batas-batas yang ditetapkan oleh hukum Allah sebagai kepala rumah tangga merupakan suatu keharusan. Rumah tangga adalah unit terkecil masyarakat. Bila dalam masyarakat ada yang disebut pemimpin formal seperti lurah, camat, bupati, walikota, gubernur dan presiden, maka suami atau ayah adalah pemimpin formal dalam rumah tangga. Keberhasilan dan kegagalan pemimpin rumah tangga akan sangat mempengaruhi kepemimpinan masyarakat. Dengan kata lain, keberhasilan kepemimpinan rumah tangga adalah sebuah anak tangga dasar menuju kepemimpinan masyarakat yang berhasil. Dimana-mana diseluruh dunia, kepemimpinan pada umumnya selalu dimulai dari bawah. Keberhasilan dari bawah inilah yang membuat masyarakat memilih seseorang untuk kepemimpinan yang lebih tinggi. Tidak beberapa lama lagi, bangsa Indonesia akan memilih pemimpin nomer satu (presiden) di Negara ini, maka sudah sewajarnya anak bangsa memilihnya dari pemimpin yang sudah pernah teruji berhasil dari bawah, mulai dari kehidupan keluarga.
Ketaatan wanita kepada suami sebagai pelindung dan pemimpin rumah tangga dalam batas-batas yang ditetapkan oleh hukum Allah digambarkan dalam sebuah Hadist riwayat Abu Hurairah yang artinya:
“Perempuan terbaik sebagai istri adalah seorang perempuan apabila engkau memandangnya, ia menggembirakanmu; bila engkau menyuruhnya, ia mentaatimu, dan bila engkau tidak berada di sisinya, ia menjaga dirinya dan harta bendamu”.
Laki-laki, kata ibnu Katsir, diutamakan Allah dari perempuan dalam kepemimpinan, dan karena itu pula, maka kenabian hanya diberikan kepada kaum laki-laki. Hal yang sama, kata beliau, juga berlaku untuk kepemimpinan tertinggi Negara dan jabatan hakim yang memutus perkara masyarakat. Dalam Hadist riwayat al-Bukhari dinyatakan:
“Suatu Bangsa tidak akan pernah berhasilbila diperintah oeh seorang Perempuan”.(Riwayat al-Bukhari no. 4073, CD –ROM Mawsu’ah al-Hadist)
Pernyataan Nabi tersebut terbukti dalam perjalanan politik bangsa-bangsa sampai hari ini. Misalnya, gagasan tentang emansipasi wanita sudah sangat berkembang di dunia modern sampai saat ini, tetapi kendali kepemimpinan public secara umum tetap berada di tangan kaum pria. Kenyataan ini melahirkan beberapa pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Apakah hal ini karena dunia berpihak kepada kaum pria, ataukah keberhasilan segelintir wanita yang menduduki kepemimpinan public karena dukungan suami mereka, ataukah keberhasilan tersebut karena mereka telah melalaikan tugas mereka sebagai ibu rumah tangga yang baik ?
Related Site:
http://managementislam.blogspot.com/
Ψ Terapi Pemimpin Ψ
Belakangan ini makin banyak kita saksikan pemimpin yang “sakit”. Setiap kali tidak terpilih sebagai pejabat public, perilaku-perilaku buruk dipertontonkan kepada public, mulai dari mengancam (bunuh diri, menyerang, dan mengerahkan massa) sampai mengacaukan. Bahkan, pada level presidenyang bergantian pun saling tak bertegur sapa.
Bahasa-bahasa negatif, penuh ancaman, sinis, dan sebagainya ditiru di mana-mana. Dengan mudah orang-orang yang kalah mengevaluasi dan memberi nilai pada kepemimpinan orang yang terpilih dan seakan-akan merekalah guru besarnya.
Penyakit seperti ini sering tidak dirasakan karena yang merasakan tidak enak bukan penderita, tetapi masyarakat yang dipimpin. Penderita itu adalah pemimpin dan calon pemimpin. Mereka semua telah mewarnai perubahan, yaitu perubahan destruktif dan problematik. Untuk menjadikan Indonesia lebih baik diperlukan Leadership Therapy. Mungkin terapi ini bukan untuk pemimpin, tetapi perlu bagi para calon pemimpin masa depan.
Leadership Therapy
Kata Leadership therapy pertama-tama diperkenalkan Anna Rowley yang direkrut Microsoft sebagai psikolog untuk menerapi para eksekutifnya. Saat itu Rowley dilibatkan untuk menangani para pemimpin perusahaan yang kelihatannya bekerja amat keras, tetapi tidak efektif. Banyak orang menghabiskan waktunya sia-sia dan tidak menyadari bahwa cara yang ditempuh menyakiti orang lain.
Maka, terapi atau penyembuhan yang berulang-ulang dibutuhkan. Kunci untuk memahami mengapa seseorang melakukan atau merasakan sesuatu dibuka. Ternyata sumber itu terletak pada pikiran-pikiran otomatik dan kebiasaan yang dibentuk oleh Core Belief. Apa yang kita percayai, otomatis membentuk kita.
Rowley mengajak eksekutif Microsoft berdiskusi. Hasilnya sungguh menakjubkan. Ternyata tidak semua pemimpin punya percaya diri yang kuat, sebagian bahkan tidak punya self esteem (penghargaan diri). Ada juga pemimpin yang takut sukses dan gagal. Latar belakang dan pengalaman hidup seseorang membentuk nilai-nilai yang dianut orang itu.
Fakta berikut ini tak dapat dimungkiri: tidak semua pemimpin itu “menjadi’, melainkan dibentuk orang lain. Bukan karena pengaruhnya yang kuat seseorang menjadi pemimpin, tetapi karena pemberian berupa posisi/jabatan, seseorang merasa menjadi punya pengaruh. Bukan karena kinerja, tetapi karena upaya kelompok, massa, atau keluarga seseorang dinobatkan menjadi pemimpin. Dalam pandangan JC Maxwell, pemimpin demikian disebut sebagai pemimpin terendah (pemimpin level I).
Bisa dibayangkan para pemimpin demikian hidupnya amat tegang mudah tersinggung atau menarik diri, tidak punya pijakan kuat, dan dapat menyakiti masyarakatnya karena jiwanya labil. Amarah tak terkendali, kegagalan tak dapat diterima. Pengakuan terhadap keberhasilan orang lain minim sekali.
Sumber kekecewaan
Belum lama ini dilakukan uji terhadap mahasiswa dengan meminta menjelaskan apa yang mereka ketahui dari buku yang wajib dibaca. Setelah itu mereka diminta memberi nilai sendiri. Sebagian besar mampu memberi nilai yang obyektif. Namun,semakin banyak ditemui yang menulis seadanya, pikirannya kosong tetapi memberi nilai diri sendiri yang tinggi. Misalnya seharusnya mempunyai nilai 35 (dari skor 100) tetapi menilai dirinya dengan 80.
Orang-orang seperti jelas akan menghadapi masalah. Mestinya, jika kompetensinya kurang, seseorang merasa malu dan perlu melatih diri lebih lebih keras lagi, bukannya menuntut penghargaan. Di luar dugaan, belakangan iniada banyak sekali perilaku demikian di dalam masyarakat. Ekspetasi yang tidak realistis seakan-akan bisa dicapai dengan berbagai cara. Mulai dari pemakaian ijazah palsu, iklan personal yang manipulatif, sampai penolakan terhadap pentingnya syarat tingkat pendidikan untuk menduduki jabatan public. Orang seperti ini ada di mana-mana. Di partai, dunia buruh, sampai mahasiswa. Perilaku seperti ini telah menyebar bak penyakit menular.
Selain itu, juga banyak ditemui berbagai serangan terhadap orang yang berkompeten dan bekerja keras. Perekonomian Indonesia menjadi janggal karena tidak didasarkan oleh prestasi. Kaum berprestasi (achievers) tersingkir keluar dan tidak mempunyai habitat yang layak. Panggung dikuasai para medioker yang sakit.
Mereka yang tidak berkompeten atau tak mau bekerja keras, tetapi mengharapkan hasil yang tinggi kelak akan mengalami kekecewaan demi kekecewaan. Rasa tidak puas jika tidak terpilih akan diungkapkan dalam ucapan-ucapan negatif.
Pemimpin yang tidak puas
Pemimpin yang percaya diri akan memiliki keteguhan (confident) dan merasa mampu menyelesaikan tugas dengan berhasil. Mengapa mampu ? Karena berkompoten dan tahu apa yang harus dilakukan. Kompetensi seseorang tidak dapat diperoleh jika tidak didukung core belief yang kuat. Kompetensi yang tidak didukung core belief yang kuat sama dengan orang yang membangun rumah di atas pasir.
Itu sebabnya kinerja di dunia usaha lebih mudah dicapai karena kepemimpinan didasarkan kompetensi dan kompetensi dilihat dari hasil yang dicapai. Pada tataran kenegaraan, situasinya menjadi lebih kompleks karena interprestasi terhadap kinerja yang dicapai oleh pemimpin dilakukan dengan persepsi yang dibingkai kepuasan berbeda-beda.
Pemimpin yang puas merespon keadaan berbeda dengan yang tidak puas. Mereka yang puas dengan dirinya cenderung lebih percaya diri dan lebih percaya pada orang lain. Mereka yang tidak puas, apakah karena kalah bersaing, tidak terpilih (dan tidak mempunyai alternative pilihan) cenderung mempunyai esteem (penghargaan) diri yang rendah.
Maka tak mengherankan jika orang-orang terhormat,elite, cendekiawan, atau politisi yang tidak puas dengan kinerjanya menjadi kritikus kasar, negatif, dan selalu menyalahkan orang lain. Saya mengamati, hal seperti ini sudah menjalar ke mana-mana. Jika ini sudah mengontaminasi organisasi Anda, saatnya untuk mencari mentor dan mengikuti terapi agar segera sembuh dari benih-benih yang negatif.
Terapi itu harus dimulai dengan mengkaji core belief, memeriksanya satu persatu. Saya sering menyebut proses ini sebagai re-setting value atau mengeset ulang nilai-nilai. Semua orang terbentuk dari nilai-nilai yang dianutnya dan nilai-nilai itu bisa terkontaminasi dari apa yang dilihat sehari-hari, dari para pemimpin yang gagal dan tidak puas. Semua yang terkontaminasi perlu disucikan kembali agar kembali sehat dan bersih.
4 Alternative Ways To Gain Lifetime Customers
You will always have more people that turn down your offer than actually buy. They might not have bought because of your price, payment options, or any other possible reason. You will just end up loosing all these potential lifetime customers. However, there are many ways you can minimize the loss of these prospects.
One way is to accept barter offers for your product. Maybe the person can't afford to buy your product. They may have something you could use in your business or personal life. If the barter deal isn't fair enough, either of you could add in some cash. You may not make money but, they might buy other products you offer.
Another way is to include a negotiation offer at the end of your ad copy. Tell your reader if there is
something they don't like about your offer, they could contact you and negotiate a different buying
offer. They may not like your price, guarantee, shipping methods, payment options, etc. You can
gain a potential lifetime customer by being flexible with your offer and negotiating instead of loosing them.
A simple way to attract lifetime customers would be to give people a freebie. The freebie should be related to the other products or services you sell. You may not be getting paid for the freebie, but you will get a lot more people using one of your products because it is free. If they are impressed by your free product there is a high chance they'll buy your other products in the future.
The last way is to sell your product at the price it costs you to produce or buy it. You will usually
sell more products at a lower price than your competition which equals more potential lifetime
customers. You will break even in cost but you'll make your profit from the upsell and backend
products your sell your lifetime customers.
You will always have more people that turn down your offer than actually buy. They might not have bought because of your price, payment options, or any other possible reason. You will just end up loosing all these potential lifetime customers. However, there are many ways you can minimize the loss of these prospects.
One way is to accept barter offers for your product. Maybe the person can't afford to buy your product. They may have something you could use in your business or personal life. If the barter deal isn't fair enough, either of you could add in some cash. You may not make money but, they might buy other products you offer.
Another way is to include a negotiation offer at the end of your ad copy. Tell your reader if there is
something they don't like about your offer, they could contact you and negotiate a different buying
offer. They may not like your price, guarantee, shipping methods, payment options, etc. You can
gain a potential lifetime customer by being flexible with your offer and negotiating instead of loosing them.
A simple way to attract lifetime customers would be to give people a freebie. The freebie should be related to the other products or services you sell. You may not be getting paid for the freebie, but you will get a lot more people using one of your products because it is free. If they are impressed by your free product there is a high chance they'll buy your other products in the future.
The last way is to sell your product at the price it costs you to produce or buy it. You will usually
sell more products at a lower price than your competition which equals more potential lifetime
customers. You will break even in cost but you'll make your profit from the upsell and backend
products your sell your lifetime customers.